Home disruption HIGHLY REGULATED

HIGHLY REGULATED

275
4
SHARE
“Assuming a specific resource is high cost is often a path of disruption when someone makes a difference assumption.” -Steven Sinofsky-
 
Industri jasa transportasi adalah industri yang Highly Regulated. Hal inilah yang menjadi pertanyaan Kenapa hampir di semua lokasi, pemerintah malah senang dengan uang yang didapat dari usaha taksi tersebut. Di New York, dari setiap usaha taksi yang beroperasi harus memiliki sesuatu yang disebut dengan Medallion. Medallion ini sebenarnya adalah surat izin namun yang membuatnya spesial adalah proses untuk mendapatkan ijin tersebut diperoleh dengan cara lelang yang bisa mencapai 1 juta dollar per unit taksinya.
 
Itulah mengapa yang memiliki medallion tersebut hanyalah beberapa orang saja karena Nilainya sangat tinggi dan juga harganya bisa terus melonjak naik. Seperti halnya bisnis properti yang ada di Jakarta. Salah satu fakta yang menarik adalah para investor ini biasanya keturunan dari Yahudi. Supir taksi di New York kebanyakan mengemudikan taksi Medallion tersebut dengan cara melakukan sewa. Dengan adanya sistem tersebut maka hanya boleh satu taxi medallions yang boleh dikemudikan langsung oleh pemiliknya.
Hal Serupa juga terjadi di London. Calon pengemudi  Misalnya harus menyediakan deposit sebesar 1 juta Poundsterling untuk mendapatkan izin. Dan juga para calon pengemudi harus melalui serangkaian tes seperti misalnya tes nama jalanan dan kisah atau sejarah dibalik landmark yang ada di kota london tersebut.
 
Pengemudi taksi di London rata-rata membutuhkan waktu selama 1 hingga 2 tahun agar bisa lolos dari serangkaian ujian yang juga tidak memakan sedikit biaya. Beberapa rangkaian tes seperti tes tulis tes wawancara tes karakter tes kesehatan sampai dengan tes menyeti danr harus bisa mereka lalui dan jumlah keseluruhan itu berkisar antara 1000 Poundsterling. Itu adalah modal awal yang dikeluarkan hanya untuk menjadi supir taksi di London.
 
Namun sebaliknya yang terjadi di kota-kota besar lainnya seperti di Jakarta tentu saja tidak harus memiliki persyaratan yang serumit itu.  Seperti diketahui pemerintah kita memiliki undang-undang perizinan dan juga pungutan. Operator taxi bisa saja mengurus semuanya itu tetapi harus mengurus izin yang melewati birokrasi dari pusat sampai dengan daerah. Sedangkan untuk sopir taxi sendiri selayaknya karyawan dia bekerja dengan sistem setoran. Regulasi yang ditetapkan pun sungguh sangat rumit dan juga sangat banyak, dibutuhkan berbagai macam surat rekomendasi dari Gubernur kemudian juga izin operasional dari kantor walikota dan ketersediaan bengkel untuk Armada taksinya itu sendiri sampai dengan pelatihan mengemudi, di dalamnya terdiri dari bermacam-macam bIaya  seperti balik nama, pembuatan plat kuning, argometer, kemudian kir yang harus diperbaharui setiap enam bulan sekali. Itulah beberapa persyaratan yang harus dimiliki jika anda ingin membuka usaha taksi, maka itu wajar jika perusahaan taksi itu hanya dimiliki oleh satu sampai dua perusahaan saja.
 
Anda bisa bayangkan bagaimana pengemudi Uber yang bebas melenggang di jalanan tanpa harus memiliki persyaratan serumit seperti perusahaan taksi tersebut. Dengan harga mobil yang berpisah di antara 20 hingga 40.000 Poundsterling, pengemudi taksi konvensional yang bekerja 40 jam seminggu di London bisa mendapatkan uang sebanyak 23.000 Poundsterling perminggu. Sungguh h itu sangat menarik dan wajar jika mereka bisa hidup sejahtera meski biaya hidupnya juga sangat besar. Tentunya hal ini berbeda dengan situasi indonesia yang kehidupan supir taksi berada di tingkat pra sejahtera dan memiliki jam kerja selama 80 hingga 100 jam per minggu dan hanya mendapatkan beberapa ratus ribu rupiah saja.
 
Ujung-ujungnya tentu saja semua beban biaya ini diberikan kepada konsumen sehingga ongkos taksi di sini lebih mahal. Uber Sebagai pelaku taksi online mengetahui itu. Dan secara teoritis disruption akan mudah terjadi dalam industri yang sedang dalam keadaan Highly Regulated. Layanan yang murah tentu saja akan didukung oleh masyarakat, sekalipun Dia memiliki kekuasaan atas birokrasi yang bisa menentang atau bahkan menangkap mereka.
 
Akan tetapi dalam kasus diatas, mengapa penumpang Uber selalu saja ada meskipun tarifnya tidak lebih murah? Hal itu terjadi karena adanya kesepakatan. Dan juga penumpang sudah tahu tarifnya sebelum Dia memutuskan untuk menggunakan uber tersebut. Jika memang cocok maka diambil, jika memang tidak maka di tinggalkan saja.
Dari kejadian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa saat ini kita hidup dalam peradaban uber, dan harus menyetujui bahwa Uber telah mengubah semua kebiasaan yang ada dan secara tidak langsung Uber juga sudah berubah bisnis transportasi ini.
 
Akan tetapi, jika anda hanya memiliki anggapan bahwa disruption hanya didominasi oleh perusahaan seperti Uber bisa jadi Anda keliru. Sebab yang terjadi di berbagai kota besar kita sekarang sudah bisa menyaksikan bahwa pegawai atau teller bank tidak banyak seperti dulu lagi. Keberadaan mereka tergerus oleh kepindahan nasabah ke depan layar ponselnya yang notabene selalu berada dalam genggaman mereka.

 

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here