Home disruption Perubahan Dilaut

Perubahan Dilaut

143
0
SHARE

Saya adalah salah seorang yang mengikuti berita tentang bangkrutnya raksasa perusahaan shipping yakni hanjin shipping yang pada akhir Agustus tahun lalu mengajukan perlindungan dari ancaman kebangkrutan atau pailit. Dalam 2 tahun terakhir sebenarnya semua media juga sudah memiliki gambaran mengenai suramnya industri jasa angkutan laut. Hal ini mengacu pada lemahnya pertumbuhan ekonomi dunia khususnya yang terjadi di cuma di Eropa dan Amerika Serikat. Dengan melemahnya harga-harga komoditi di dunia, maka kapal-kapal besar milik hanjin Shipping menganggur. Ditambah lagi dengan puluhan perusahaan pelayaran lainnya Hal ini seperti sebuah api yang merembet kemana-mana baik mengenai shipping line, maupun perusahaan pembuat kapal. Hal ini juga yang menyebabkan harga kapal menjadi anjlok.

Saat PT Djakarta Lloyd mengajukan penyertaan modal negara atau PMN yang sebesar 350 miliar rupiah pada tahun lalu untuk membeli kapal, harga per unitnya untuk kapal buatan tahun 2000 saja berkisar di antara 150 juta dolar Amerika Serikat. Menurut Arham dengan adanya jumlah uang yang sama dirinya bisa mendapatkan dua setengah unit kapal yang sama dan harganya pun sudah turun 60% dari harga semula. Demikian menurut arah HAM di kantor Rumah Perubahan.

Tetapi, benarkah hanjin shipping bangkrut karena memang lemahnya perdagangan di dunia?
Majalah the economist pada bulan September tahun 2016 melaporkan bahwa krisis di dunia itu benar-benar terjadi. Setelah hanjin shipping melaporkan ke pengadilan untuk mengamankan asetnya yang senilai 14,55 miliar milyar Amerika Serikat, maka setelah itu nama-nama perusahaan lainnya mulai menyusun untuk melindungi aset milik mereka.

Dari 12 perusahaan perkapalan yang terbesar di dunia ada perusahaan yang melaporkan kerugiannya  sebanyak 11 buah perusahaan. Tiga perusahaan berasal dari Jepang yakni Mitsui O.S.K Lines,NYK Lines, dan Lawasaki Kisen Kaisha. Nasib yang sama juga harus dialami oleh beberapa raksasa Eropa seperti Maersk dan CMA-CGM yang berasal dari Perancis. Media The Economist pada akhir 2016 menyampaikan bahwa industri dari shipping line ini akan merugi sebanyak 10 miliar dolar Amerika Serikat dari jumlah total pasaran senilai 170 miliar dolar Amerika Serikat di seluruh dunia.
Lalu bagaimana perusahaan Shipping Line ini berjatuhan?

Arham menjelaskan kepada saya kejadian serupa harus dialami oleh perusahaan taksi di dunia termasuk didalamnya Blue Bird yang saat ini sedang menghadapi saingan yang tidak terlihat.
Dia menambahkan  bahwa perusahaan shipping Line tidak perlu mempunyai kapal Sendiri Lagi. Cukup menjadi operator saja. Hal ini dikemukakan ketika peluncuran aplikasi portalnya yang sedang dibangun di PT Djakarta Lloyd.

Arham menambahkan bahwa jika ada pesanan angkutan barang dari pulau Kalimantan sementara kapalnya sedang berada di Jakarta dan pesanan adalah ke Jakarta, maka biayanya Tidak akan terlalu mahal. Pihaknya akan mengantar kapal kapal milik perusahaan shipping lain-lainnya yang sedang berada di lokasi terdekat. Dengan hal ini Tentunya biaya pasti lebih murah. Namun belakangan ini Jakarta Lloyd juga pernah hampir bangkrut di era 2008 hingga 2013 dengan total mencapai 554 Miliar rupiah, saat ini sudah mulai kembali merangkak naik dengan menghasilkan laba bersih sebanyak 40 miliar rupiah di tahun 2016. Dengan demikian, pgerakannya yang tidak terlihat oleh lawan main, sehingga perusahaan ini saat ini menjadi lawan bagi para shipping lain-lainnya yang bertarung dengan memiliki kapal-kapal sendiri. Jika harus memenuhi tender dari pemerintah maka mereka wajib menggunakan kapal bendera sendiri dan hal itu bisa membuat pemerintah dan perusahaan BUMN harus mengeluarkan biaya lebih besar lagi.

Salah satu hal lain yang juga tidak dapat dilihat secara kasat mata adalah berpindahnya perusahaan-perusahaan besar mendekati pasar dan bahan baku. Ini artinya angkutan laut semakin efisien dan kini jaraknya semakin terbatas.

Selain itu masih banyak juga contoh kasus dari berbagai penjuru dunia bidang usaha dan sektor yang mengalami penurunan ini. Anda perlu paham lagi dari segi bisnis kultur, tradisi belantara, peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum ataupun bahkan pemeriksaan pemeriksaan audit untuk mengatasinya, karena semua yang terjadi adalah nyata.

Namun sebelum anda melakukan hal itu Anda harus terlebih dahulu mengucapkan selamat kepada anda semua. Ucapan selamat dan dimaksud adalah Selamat datang di era peradaban serba teknologi. Dengan adanya hal ini apakah kita mengubah langkah perubahan? Atau bahkan kita yang harus merubah hal itu? Kita menghadapi sebuah era yaitu Era disruption. Di mana Pada era ini dibutuhkan distruktif regulation disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here